Hai gaess, kali ini aku bakal bahas mengenai kebudayaan yang ada di Kudus. Jenang adalah salah satu makanan yang identik dengan kota kudus. Sebagaimana diketahui kebanyakan budaya-budaya yang ada di Indonesia merupakan wujud dari rasa syukur kepada Sang Pencipta, demikian pula upacara tahunan yang di adakan di desa Kaliputu. Upacara tahunan ini disebut " Kirab Tebokan Jenang" yang merupakan bentuk rasa syukur yang diwujudkan dalam bentuk perarakan warna warni jenang yang tersedia dalam sebuah wadah atau yang di sebuat dengan tebokan. Tebokan sendiri merupakan sebuah wadah yang awalnya digunakan untuk menjual jenang.
Kebanyakan budaya atau adat istiadat yang ada tercipta karena adanya suatu peristiwa yang melatar belakangi kebudayaan tersebut. Salah satu contohnya adalah Kirab Tebokan Jenang, Mbah Dempok Soponyono dan cucu Mbah Dempok melatar belakangi lahirnya jenang kudus.
Waktu itu Mbah Dempok sedang bermain burung hingga lupa akan cucunya, tanpa disadari ternyata cucunya telah terhanyut di sungai dan tidak sadarkan diri. Saat itu Syekh Jangkung dan Sunan Kudus sedang melintasi kerumunan tersebut, Sunan Kudus beranggapan bahwa cucu Mbah Dempok itu sudah mati, namun Syekh Jangkung beranggapan bahwa cucu Mbah Dempok masih hidup namun hanya mati suri saja.Untuk membangunkannya, Saridin (nama asli Syekh Jangkung) meminta kepada ibu-ibu untuk membuat jenang bubur gamping agar diberikan kepada bocah tersebut.
Kenapa disebut jenang bubur gamping? Sebab makanan itu dibuat dari tepung beras, garam, dan santan kelapa.Setelah disuapi dengan jenang bubur gamping, bocah itu hidup kembali.
Inilah awal mula adanya jenang, hingga saat ini jenang masih tetap dilestarikan bahkan dijadikan sebagai sumber pangan masyarakat.Kirab ini digelar tahunan di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, hal ini diadakan untuk menyambut datangnya tahun baru hijriyah.

Kebanyakan budaya atau adat istiadat yang ada tercipta karena adanya suatu peristiwa yang melatar belakangi kebudayaan tersebut. Salah satu contohnya adalah Kirab Tebokan Jenang, Mbah Dempok Soponyono dan cucu Mbah Dempok melatar belakangi lahirnya jenang kudus.
Waktu itu Mbah Dempok sedang bermain burung hingga lupa akan cucunya, tanpa disadari ternyata cucunya telah terhanyut di sungai dan tidak sadarkan diri. Saat itu Syekh Jangkung dan Sunan Kudus sedang melintasi kerumunan tersebut, Sunan Kudus beranggapan bahwa cucu Mbah Dempok itu sudah mati, namun Syekh Jangkung beranggapan bahwa cucu Mbah Dempok masih hidup namun hanya mati suri saja.Untuk membangunkannya, Saridin (nama asli Syekh Jangkung) meminta kepada ibu-ibu untuk membuat jenang bubur gamping agar diberikan kepada bocah tersebut.
Kenapa disebut jenang bubur gamping? Sebab makanan itu dibuat dari tepung beras, garam, dan santan kelapa.Setelah disuapi dengan jenang bubur gamping, bocah itu hidup kembali.
Inilah awal mula adanya jenang, hingga saat ini jenang masih tetap dilestarikan bahkan dijadikan sebagai sumber pangan masyarakat.Kirab ini digelar tahunan di Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, hal ini diadakan untuk menyambut datangnya tahun baru hijriyah.
Komentar
Posting Komentar